Jumat, 14 Oktober 2011

Iqomat Berkumandang Tetap Boleh Sahur


Iqomat Berkumandang Tetap Boleh Sahur !

oleh Sukpandiar Idris Advokat As-salafy pada 09 Agustus 2011 jam 0:41
." Apabila seseorang dari kalian mendengar adzan (Subuh), sementara itu gelas masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menyelesaikan minumnya (sahurnya penulis-SI)." (HR.Abu Dawud no.2333 dan HR.Hakim 1/426.) menurut Kamal bin As Sayid Salim derajatnya Shahih.
“Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar (bin Khaththab) radhiallaahu ‘anhu. 
umar bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Apakah aku boleh meminumnya?”. 
Beliau menjawab : “Boleh”. Maka Umar pun meminumnya” 
(HR. Ibnu Jarir 3/527/3017 dengan dua sanad darinya; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1394) Syaikh Salim al-Hilaly telah pula mensahkannya. Sepertinya 2 hadits di atas bertentangn !, Benarkah?

Jawab:

2 hadits di atas tidak bertentangan. Alasannya, bukankah Iqomat itu Adzan juga!.
Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu , ia berkata: "Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , ‘Di antara dua adzan itu ada shalat, di antara dua adzan itu ada shalat, di antara dua adzan ( Adzan n Iqomat-SI) itu ada shalat. Kemudian pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: ‘bagi yang mau". (Muttafaq ‘alaih). Dengan demikian ke 2 hadits tersebut tidak saling bertentangan, malah saling mendukung dan mempertegas bolehnya mengakhirkan sahur.

Faidah Hadits:

1. Bukti tidak ada istilah yang bernama Imsak,
2. Agar kita tidak ragu-ragu untuk mengakhirkan makan sahur,
3. Agar kita tidak tegesa-gesa untuk mengakhirkan sahur,
4. Makruh hukumnya meninggalkan makan unutk segera menuju ke Masjid. ( Note tentang hal ini telah ana bikin).
5. Sangat di anjurkan makan sahur karena untuk menyelisihi  Nasrani
“Yang membedakan antara puasa kami (orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. al-Imam Muslim dan lainnya)
Al-Imam Sarafuddin ath-Thibi t berkata, “Sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab, karena Allah k telah membolehkan kita sesuatu yang Allah  haramkan atas mereka. Penyelisihan kita terhadap ahli kitab dalam masalah ini merupakan nikmat (dari Allah ) yang harus disyukuri.” (Syarhuth-Thibi, 5/1584). Sampai-sampai ada ulama yang mengatakan sahur itu wajib, yang benar sunnah yang kuat bukan wajib, karena jika wajib gak boleh di tinggalkan dengan alasan apapun. Jika sengaja tanpa sahur , hukum nya makruh. Wallallahu 'alam
6. Bisa Ngalap Berkah.

Cikarang Barat , 9  Ramadhan 1432 H /  9 Agustus  2011 JAM  00.41 WIB
Tukang: Baru mencari Ilmu, Herbalis, Thibbun Nabawy, Penjual Buku Islam dan Advokat (0811195824)

ABU Hada SUKPANDIAR IBNU MUHAMMAD IDRIS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar